Terkena Penyakit Langka Bernama Lumut Matahari, Nek Nurhasanah: Untung Saja Berobatnya Pakai JKN-KIS

Peserta JKN-KIS yang terkena Lumut Matahari, Nurhasanah (77 tahun)
Peserta JKN-KIS yang terkena Lumut Matahari, Nurhasanah (77 tahun) (Ist)

PASAMAN, KLIKPOSITIF - Nurhasahanah (77 tahun) tak menyangka bahwa ia akan mendapat penyakit langka dan jarang ditemukan. Dokter mendiagnosisnya pada akhir 2019 lalu terkena Polymorphous Light Eruption (PLE) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lumut Matahari.

"Saya tidak menyangka, di usia saya yang sudah kepala tujuh ini malah terkena penyakit yng dikatakan dokter baru pertama kali ada di Lubuk Sikaping Pasaman, tempat saya melakukan cek," kata Nurhasanah.

baca juga: APEKSI Dukung Pemerintah Wajibkan Pekerja Rentan, Pegawai Non ASN Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

Ia merasa panik dan bingung ketik dokter mengatakan bahwa penyakitnya itu langka dan baru diketahui di RSUD Pasaman. Seketika, ia membayangkan berapa besar biaya yang harus ia keluarkan untuk biaya pengobatan untuk penyakit langkanya tersebut.

Ia sempat berdiskusi dengan keluarganya terkait penyakitnya tersebut. Membicarakan apakah ada persiapan biaya untuk pengobatannya, namun keluarganya saat itu tidak dapat membantunya banyak karena kondisi ekonomi yang juga tidak sedang baik. Lagipula ia hanya seorang pedagang di daerah Pasa Kaciak, begitu juga kondisi anggota keluarganya yang lain.

baca juga: Pasca Inpres Diteken Presiden, 34 Ribu Pendamping Desa Terdaftar Program Jamsostek

Namun, ia teringat bahwa dirinya memiliki kartu Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari BPJS Kesehatan. Ia menjadi anggota sejak 2010 lalu saat program JKN-KIS masih bernama Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Kemudian, untuk pengobatan selanjutnya, ia menggunakan kartu itu dan merasa sangat bersyukur karena berkat kartu itu ia tidak dipungut biaya sedikit pun saat berobat.

baca juga: Jamin Kesejahteraan Seluruh Pekerja, Presiden Teken Inpres Perintahkan Seluruh Elemen Pemerintahan Dukung BPJAMSOSTEK

Nurhasanah menceritakan bahwa ia dirujuk ke RS Achmad Mockhtar Bukittinggi. Tak hanya sekali, pengobatan untuk penyakit labgkanya mengharuskannya membuatnya dirujuk sebanyak 6 kali ke RS di Bukittinggi itu. Karena di RSUD Pasaman belum begitu memadai alat untuk pengobatannya sebab penyakitnya yang masih cukup langka disana.

"Dirujuk 6 kali ke RSAM Bukittinggi. Bayangkan saja, jika diharuskan dengan biaya pribadi, pastinya saya tak ada uang untuk membayarnya. Tapi berkat JKN-KIS, rasanya permasalahan biaya untuk berobat tidak perlu lagi dicemaskan. Terutama bagi saya dari masyarakat yang memiliki ekonomi menengah di bawah," katanya.

baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Cabang Padang Serahkan Santunan dengan Total Ratusan Juta Rupiah

Ia berharap agar pemerintah tetap mengadakan program ini. Karena menurutnya hal itu akan sangat membantu banyak orang dengan ekonomi lemah.

"Semoga program berobat gratis melalui JKN-KIS oleh BPJS Kesehatan untuk masyarakat miskin ini tetap ada ya pak. Karena ini sangat membantu kami," tututrnya.

Editor: Khadijah